Mini Indonesia dalam Cultural Festival UGM Residence


Cultural Festival UGM Residence merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh pengelola UGM Residence. Konsep dari acara ini adalah menampilkan kebudayan khas daerah asal mahasiswa yang menimba ilmu di Universitas Gadjah Mada. Acara ini deselenggarakan secara tahunan dan dikelola oleh mahasiswa UGM yang tinggal di asrama. Pada penyelenggaraan tahun ini, Ikatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Jember Yogyakarta (IKPMJ Yogyakarta) berhasil memenangkan penghargaan sebagai organisasi mahasiswa terbaik dalam acara ini.
Foto 1. Pawai Yang Dilakukan IKPMJ
Sumber: Staff Media CulFest UGM 2019
Pada tahun 2019, acara ini terselenggara pada 4 Mei yang tersusun atas berbagai acara. Untuk mengawali kegiatan ini, terdapat pembukaan oleh pihak UGM Residence yang kemudian dilanjutkan dengan pawai oleh peserta dan pada sore hingga malam harinya barulah dibuka pameran untuk menunjukkan kekhasan daerah bersamaan dengan lomba dan pertunjukkan di panggung utama. Acara ini menghadirkan pakaian, tarian, makanan, bahkan hingga tokoh terkenal dari daerah tersebut sebagai maskot.
Rangkaian acara dibuka dengan pembukaan dari pihak UGM Residence yang berlokasi di Balairung yang kemudian diikuti dengan pawai budaya yang diikuti oleh berbagai organisasi mahasiswa daerah, seperti Kemarigama dari Riau, Himavia dari Jakarta, Formagamas dari Banyumas, dan bahkan Kampgama asal Papua. Dalam pawai budaya kali ini para peserta mengenakan identitas daerah mereka sembari mempertunjukkan kesenian khas daerahnya. Yang paling menonjol pada pawai kali ini adalah IKPMJ asal Jember yang melakukan pawai sembari membawa mobil raksasa yang mengangkut pemain kesenian kentongan yang dimainkan sepanjang jalan menyusuri pawai, yakni dari Balairung keluar melalui Jalan Kaliurang menuju Bundaran UGM dan masuk UGM kembali melalui pintu timur UGM dan selesai di Wisdom Park UGM. Organisasi mahasiswa lain juga menampilkan hal yang tak kalah menarik seperti Kampgama yang membawakan tarian beserta pakaian adatnya, Himavia yang menggunakan pakaian adat Betawi, serta Formagamas yang menampilkan tokoh populer asal Banyumas, Bawor.
Foto 2. Pertunjukkan Seni Khas Daerah Saat Pawai
Sumber: Staff Media CulFest UGM 2019
Setelah melaksanakan pawai, peserta akan diberi waktu untuk menghias stand yang telah disiapkan panitia untuk festival budaya yang akan diselenggarakan mulai sore hingga malam hari. Setiap peserta yang ada dapat mendapatkan maksimal dua stand, yang terdiri atas stand budaya dan stand makanan. Pada pameran budaya, peserta dapat mengisinya dengan pakaian, kain, foto, produk, maupun informasi menarik yang dapat menarik minat para pengunjung. Sedangkan pada festival makanan, para peserta menampilkan sekaligus menjual makanan atau minuman khas dari daerahnya. Berbagai macam kuliner mulai dari makanan berat, seperti Mie Ongklok asal Wonosobo hingga kudapan, seperti Mendoan asal Banyumas dan Choi Pan asal Kalimantan Barat. Makanan yang dijual dalam festival kali ini berkisar mulai dari ribuan hingga belasan ribu rupiah saja. Selain dihiasi oleh stand mahasiswa daerah, acara ini juga diikuti oleh beberapa komunitas lain seperti promosi karya PKM-K karya mahasiswa UGM.
Festival budaya ini juga turut diramaikan dengan penampilan band dan kesenian daerah yang dapat dilihat di panggung utama. Selain itu festival ini juga menghadirkan lomba putra-putri daerah pada panggung utama untuk memprosikan dan mengenalkan daerah asal mereka kepada pengunjung yang hadir. Festival ini juga diikuti oleh berbagai lomba pada saat acara berlangsung, seperti lomba pawai kebudayaan dan lomba makanan daerah dan juga lomba pendamping acara seperti pembuatan logo dan label Toyagama dan lomba jingle “Cultural Festival UGM Residence”.

Foto 3. Choi Pan dari Kalimantan Barat
Sumber: Staff Media CulFest UGM 2019
Acara tahun ini berlangsung meriah karena diikuti antusias yang besar dari para peserta maupun pengunjung yang datang di Cultural Festival UGM Residence kali ini. Budaya dari seluruh daerah bersatu padu dan menjadi sebuah “mini Indonesia” yang unik namun tetap satu atap di bawah Republik Indonesia yang sungguh kaya akan budaya. Menurut saya sebagai peserta dalam acara kali ini, pelaksanaan dari pihak panitia dapat dikatakan baik karena susunan acara dan teknis pelaksanaannya sangat rapih, mulai dari segi acara itu sendiri, parkiran, dekorasi acara, penempatan dan pembagian stand serta pengaturan pengunjung yang datang pun dapat diakui jempol. Selain hal diatas, acara ini juga merupakan ajang bagi organisasi mahasiswa daerah untuk saling mengenal satu sama lain maupun untuk mengenal diri mereka lebih dalam lagi.
Festival ini merupakan acara yang memang harus diselenggarakan secara rutin dan berkala, selain menghadirkan kebudayaan Indonesia, acara ini juga menyajikan sisi wisata kuliner yang dapat dijadikan salah satu tujuan untuk melepas penat dalam perkuliahan. Kapan lagi mencoba kuliner khas daerah yang nun jauh disana tanpa perlu mengeluarkan uang tiket pesawat yang harganya sedang melambung naik bukan? Jadi tunggu dan kunjungilah Cultural Festival UGM Residence yang akan datang di tahun mendatang dan jangan sampai melewatkannya.

Komentar

Postingan Populer